REVIEW NOVEL PRAHARA CINTA
Beberapa minggu yang lalu mampir ke TM Bookstore di Detos, ceritanya mau cari-cari buku untuk kado ultah temen. Tapi bingung, kira-kira buku apa yah yang pas buat dia. Karna udah lama banget qt jarang ketemu dan ngobrol2. Tapi karna sudah terlanjur masuk, ya sudah, mari mencari buku yang enak dibaca.
Jajaran terdepan rak buku yang ada di toko ini kebetulan buku-buku islami. Berbagai macam buku dari mulai tata cara sholat, buku hadits, Al-qur'an dan berbagai bacaan menarik dari mulai yang ringan sampai yang lumayan bikin kepala berkerut, karna bahasanya yang ilmiah dan berbobot. Hmmm... ternyata banyak juga ya yang menarik perhatian minatku, seperti kisah istri-istri para nabi, wanita-wanita dalam Al-qur'an, Bagaimana menjadi wanita sholehah versi Al-quran, dan banyak lagi.
Tapi melihat tebal bukunya, aq agak sedikit sangsi, karna akhir-akhir ini minatku akan membaca sedang surut. Salah satu penyebabnya adalah karena sibuk dengan pekerjaan, sehingga pulang larut malam, sampai rumah sudah lelah dan yang paling indah dilakukan adalah berbaring.
Nah mumpung lagi senggang, saya berniat untuk membaca lagi. Dan ada satu buku yang menarik perhatian saya, buku karya Abu Umar Basyier yang berjudul "Prahara Cinta". Sebuah kisah yang menguji iman, hmmm nampaknya kalimat ini cukup menarik perhatianku. Setelah beberapa hari, akhirnya tamat juga ni buku. Karena isinya yang bagus, aq jadi ingin sharing disini.
Judul : Prahara Cinta (Sebuah Kisah Asmara Yang Menguji Iman)
Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit : Shafa Media PublikaHamidi adalah seorang pemuda sederhana yang sejak kecil sudah ditinggal Ayahnya kehadapan Sang Khalik, Ia dan kedua kakaknya diasuh oleh pamannya yang berprofesi sebagai pengayuh becak, yang karena kedapatan menghamili seorang janda, akhirnya harus menjalani kehidupan berpoligami. Dibalik kemiskinan begitu menghimpitnya, sebenarnya Hamidi adalah seorang anak yang cerdas. Hanya saja berbagai situasi kadang membuatnya mudah kehilangan konsentrasi belajar, sehingga prestasinya naik turun.
Berkat kegigihannya, akhirnya Hamidi berhasil melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bekerja menjadi penjual koran ternyata lebih dari cukup untuk membiayai sekolah SMA nya. Namun karena salah pergaulan, Ia terpaksa harus mencicipi dinginnya jeruji penjara akibat kenakalan remaja seusianya, yaitu mengutil. Namun ternyata ini sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Disanalah ia bertemu dengan Jamilush, kembaran Irwan teman pesakitannya di penjara. Nasihat-nasihatnya yang sederhana membuat Hamidi menjadi tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Islam, agama yang dianutnya sejak kecil, namun tidak pernah didalaminya.
Namirah adalah cinta pertama Hamidi. Ia begitu sempurna dimata Hamidi, karena kecerdasannya yang tidak mampu dilampauinya. Ia bukan hanya cerdas, tapi brilian dimatanya. Namun perbedaan status membuat Hamidi begitu minder untuk mengungkapkannya. Sekian tahun berlalu, perjumpaannya kembali dengan Namirah membuat hatinya kembali berdebar. Dan atas usul Ustadnya, akhirnya Hamidi memberanikan diri melamar Namirah. Namun malangnya, lamarannya di tolak.
Meski lunglai, tapi Hamidi begitu menyadari posisinya. Setelah Ta'aruf dengan Zakiah selama beberapa bulan, ia memutuskan hidup bersama Zakiah yang dengan kesadarannya akhirnya merelakan kuliahnya tidak dilanjutkan, demi bakti sebagai seorang istri yang solehan. Hari-hari dilalui dengan kesederhanaan dan kebahagiaan. Zakiah ternyata sosok istri yang sangat pengertian dan penyabar. Bayang-bayang cinta pertamanya kembali hadir, ketika didengarnya kabar Namirah akan menikah. Bahkan ketika usia pernikahan Namirah hanya bertahan 6 bulan, dan berujung pada perceraian, mampu menggoyahkan akal sehatnya. Pilihan antara Poligami atau perpisahan benar-benar membuat kalut hari-harinya.
"Dunia ini tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Manusia didalamnya ada dua golongan; (1) orang yang menjual dirinya (kepada hawa nafsu) dan menjadi hancur karenanya, dan (2) manusia yang membeli dirinya dan mampu membeli dirinya dan mampu membebaskannya"
-Ali Bin Abu Thalib-
“…boleh jadi kami tidak mencintai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah : 216)
Percayalah, apapun yang telah Allah tetapkan pada diri dan kehidupan kita, seyogyanya adalah yang terbaik untuk kita. Meskipun pahit, meskipun perih, tapi pasti ada sesuatu yang baik untuk kita. Seperti halnya Hamidi, memiliki seorang Zakiah adalah lebih dari cukup menurutku. Selain cantik, taat beribadah, Zakiah adalah sosok yang sabar dan pengertian. Sekecil apapun perhatiannya itu, ternyata baru terasa berarti ketika ia sudah pergi meninggalkannya. Dan semua mimpi indahnya di masa lalu, ternyata justru menjadi mimpi terburuk dalam kehidupannya. Kecerdasan hanya dijadikan alasan untuk (pembenaran) melakukan kesalahan.

jd tertarik baca novelnya deh
BalasHapus