Senin, 06 Februari 2012

Soft Cheddar Blueberry Cake

Soft Cheddar Blueberry Cake
Ala Chef We

 
Bahan Yang digunakan :
Bahan I:
- 100 ml susu cair (UHT)
- 15 gr mentega tawar
- 125 gr keju cheddar, parut halus

Bahan II:
- 30 gr tepung terigu protein sedang
- 20 gr maizena
- 3 butir kuning telur

Bahan III:
- 3 butir putih telur
- 1/4 sdt garam
- 75 gr gula pasir
- ¼ sdt cream of tar-tar

Topping :
- 150 gr selai blueberry topping
- buah-buahan sesuai selera 
 
Cara Membuatnya :
  1. Pertama-tama siapkan loyang 18 cm, olesi dengan mentega, lapisi dengan kertas roti, olesi sekali lagi dengan mentega hingga rata. Lapisi bagian luar loyang dengan aluminium foil, pastikan loyang kedap air. Siapkan loyang untuk air rendaman, isi dengan air sampai 1/4-nya (saat memanggang ketinggian air tidak boleh melebihi 1/3 tinggi loyang adonan). Sisihkan.
  2. Campur mentega, susu cair, dan keju cheddar yang sudah diparut (Bahan I) dalam panci kecil, panaskan di atas api sambil diaduk-aduk hingga semua bahan meleleh dan menyatu. Jaga supaya krim tidak sampai gosong. Jika perlu, matikan api sementara krim diaduk-aduk.
  3. Dalam keadaan krim masih hangat, ayak terigu dan maizena (Bahan II,kecuali telur) ke dalamnya. Aduk hingga rata. Masukkan kuning telur satu persatu sambil diaduk hingga rata. Pastikan semua bahan menyatu. Sisihkan. Sementara menunggu, masukkan loyang berisi air ke oven, nyalakan oven dengan suhu 160°C.
  4. Kocok putih telur, gula pasir dan cream of tar tar hingga ‘soft peak’ saja. Masukkan kocokan ini ke adonan. Aduk hingga rata benar. Tuang adonan ke dalam loyang.
  5. Cek loyang apakah sudah cukup hangat. Air rendaman tidak perlu sampai mendidih/bergolak, cukup sampai ada gelembung-gelembung kecil di dasar loyang. Letakkan adonan loyang di atasnya.
  6. Panggang selama 45 menit. Tes dengan tusuk gigi. Jika masih kurang matang, bisa ditambahkan 5-10 menit lagi. Saat matang, permukaan cheese cake tetap kuning (tidak coklat) dan ada semu keemasan.
  7. keadaan hangat, langsung balik adonan. Supaya tidak lengket, gunakan selembar serbet kering untuk membalik. Pelan-pelan ya, karena cheese cake ini lembuuut sekali
  8. Penyelesaian: Olesi permukaan cake selai, atau hias dengan buah-buahan sesuai selera.
Resep ini lagi ikut lomba yang diadakan oleh "Resepkita.com & Tupperware"
Jangan lupa dukungannya ya dengan mem-vote (pilih bintang paling kanan y) resep ini di "Soft Cheddar Blueberry Cake"
Makasi y yang udah bantu..
dan jangan lupa.. yuuk mari dicobain resepnya !!

Selasa, 03 Januari 2012

FRUITS PANCAKES Ala Chef We


Hihihiiii.. Awalnya tuh iseng banget, aku praktek bikin pancakes, trus di upload di situs jejaring sosial. Eh temen-temen kantor pada nagih minta dibawain. Ya sudah aku bawain, garnis nya di kantor. Ada yang bawa saus blueberry, strawberry, pisang, mesis dan rmbutan. Lucu banget ya, buah yang agak kurang lazim sebetulnya untuk di sandingkan dengan pancakes. Tapi kami cuek aja.

Nah kebetulan si Miss Kyu, sahabat karibku ini lihat fotonya, trus nanyain apa resepnya dan gimana cara bikin nya. Akhir tahun kemarin, yang baru dilewati selama 3 hari ini, aku jalan berdua dengan sahabatku, Miss Kyu. Tiba-tiba aja di todong sama dia untuk bikin pancakes. Kaya nya ini kesempatan bagus bagi Miss Kyu nagih janjiku untuk bikinin dia penganan yang satu ini.Ya sudahlah, mumpung lagi di supermarket, akhirnya kami membeli bahan-bahannya.

Bahan-bahannya cukup simpel loh

500 ml Susu Cair Plain
300 gr Tepung Protein Tinggi
2 btr Telur ayam
3 sdm Gula pasir
1/4 sdt Garam
1 sdm Ragi Instant
2 sdm  Mentega (Cairkan)

Bahan Garnis

Susu kental manis coklat atau putih sesuai selera
Mesis secukupnya
Sirup coklat atau Coklat cair secukupnya
Keju oarut secukupnya
Pisang secukupnya
Rambutan secukupnya
Mangga secukupnya
Strawberry

Note. Untuh buah-buahan bisa disesuaikan dengan selera

Bahan-bahan telah siap, Ayo sekarang mari kita mulai membuatnya

Cara Membuat

Lelehkan mentega di wajan teflon kecil yang nanti akan digunakan untuk memanggang pancakes. Sisihkan.
Kocok telur dan gula dengan mixer selama 15 menit.
lalu Masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu yang telah di campur ragi sambil memasukkan susu cair sedikit demi sedikit sampai kedua bahan tercampur rata.
Kemudian masukkan mentega cair yang telah dingin, campur rata.
Tutup Adonan kemudian diamkan adonan selama lebih kurang 30 menit.


Setelah 30 menit dan adonan dirasa sudah mengembang, maka adonan siap di panggang.
Ambil adonan sebanyak satu centong sayur, lalu tuang diatas wajan teflon.
Setelah agak kecoklatan, balik adonan. Biarkan sisi yang satu berubah agak kecoklatan juga,
Angkat, lalu sajikan dengan membubuhakn susu secukupnya, ditambah dengan taburan mesis, keju atau bahan garnis sesuai selara.
Sementara buah-buahannya bisa di letakkan di sisi piring saji.

Senin, 02 Januari 2012

ALLAH MENJALANI KEHIDUPAN INI DENGAN CARANYA YANG MISTERIUS

Kisahku : JODOHKU


Aku ingin berbagi kisah. Usiaku sudah menjelang kepala 3. Namun jodohku tidak kunjung menghampiri. Mengawali tahun yang baru, kubuat serangkaian target yang ingin kucapai. Diantaranya adalah menjadi lebih sehat, melakukan diet, memperbanyak sedekah, memanjangkan sholat malam, rajin puasa sunah, minimal puasa senin dan kamis, sehingga pada akhirnya aku diperkenankan bertemu dengan jodohku. Alhamdulillah, segala niat positifku ini (yang baru saja aku tuliskan, baru hendak akan dilaksanakan) didengar oleh Allah swt.
 2 tahun yang lalu adalah pertemuanku dengannya, kira-kira di awal tahun. Lelaki  yang berperawakan kecil, namun gesit, lincah dan supel ini menyatakan ketertarikannya padaku. Aku menerimanya dengan perasaan datar, meskipun hati kecil ini beriak tanda bahagia. Tidak tanggung-tanggung, diawal perkenalannya, dia membawa serta ayahnya untuk bertemu dengan orangtuaku. Kami berbincang seolah-olah kami sudah saling mengenal satu sama lain, hanya saja baru saja dipertemukan kembali. Tidak ada perasaan canggung atau malu. Diakhir perjumpaan itu, sang ayah menyelipkan sebuah kalimat yang sedikit menggetarkan hatiku, dia berkata, apabila ada kecocokan diantara kami (saya dan anaknya) maka sebagai orangtua, ia tidaklah berkeberatan.
Beberapa minggu kemudian, sesuai permintaannya, aku ditemani, ayah,ibu dan kakak datang bersilaturahmi kerumahnya, dan mempersiapkan bingkisan kecil untuk keluarganya. Pertemuan dua keluarga ini nampaknya berjalan baik. Dan menjadi awal yang baik untuk hubungan yang diawali dengan niat yang sangat serius ini. Seiring dengan berjalannya waktu, rasa sayang itu pun tumbuh. Terlebih ketika mengenal kesehariannya yang terbilang aktif baik di bidang sosial maupun bidang keagamaan. Meskipun aku merasa tidak memiliki bekal agama yang baik, namun bersamanya, aku yakin dia akan bisa membimbingku kelak. pada hari ulangtahunnya, aku memberi kejutan kecil dengan mambawa kue dan kado kecil untukknya, meskipun pada hari ulang tahunku, dia tak memberikan apa-apa untukku. Bagiku, kehadirannya terasa lebih dari cukup.
Hubungan jarak jauh ini memang sangatlah tidak mudah. Begitu banyak rintangan yang menghadang. Perasaan cemburu bercampur dengan kangen, senantiasa menggelayuti. Namun kominukasi yang intens ternyata mampu meradamnya. Akhir idul fitri tahun itu,Tidak terasa, hampir setahun usia hubungan ini. Aku berdiskusi tentang masa depan kami, tapi nampaknya aku harus menelan kekecewaan. Dia yang diawal hubungan begitu antusia ingin melamarku, kini tidak bisa memberi jawaban yang pasti. Setelah terlontar pertanyaan itu (mengenai kelanjutan hubungan kami), komunikasi kami memburuk. Dan hubungan kami diambang kehancuran. Ku curahkan semuanya pada Allah. Dalam setiap sujudku, dalam setiap simbah air mataku ini, tersebut sebuah permintaan, Allah, tunjukkan yang terbaik untukku. Bila memang dia adalah Imam ku, mudahkanlah jalan untukku, bila dia bukan jodohku, jauhkanlah dia dariku. Sebuah permohonan kecil dan bernada sedikit putus asa ini senantiasa kupanjatkan dlm sholat malamku.


Pada suatu malam aku bermimpi, ibuku menginginkan hubungan kami diresmikan, setidaknya  diikat dalam sebuah tali pertunangan, sementara posisi real kami, sedang tidak baik (tidak ada komunikasi sama sekal.  Beberapa kali aku sms, dia tidak membalas, di telpon tidak diangkat). Aku termangu mendengar permintaan ibu. Tapi dengan tenang nya ibu mempersiapkan semuanya, memasak bersama beberapa kerabat di rumah. Suasana riuh rendah di rumah. Sungguh diluar dugaan, dia datang bersama ibu dan beberapa kerabatnya yang aku tidak mengenali wajahnya. Kami duduk berdampingan, sesaat, hanya sesaat saja. karena beberapa detik kemudian ibunya meninggalkan ruangan, dia pun keluar menghampiri ibunya. Menit demi menit kami menunggu. Tidak lama, Dia menelponku, dan menyatakan belum siap melakukannya hari ini. Tidak lama aku terbangun. Termangu dan merasakan mimpi itu begitu nyata. Mungkinkah perasaanku ini, perasaan tidak enakku atas ibunya yang (sepertinya) tidak merestui hubungan kami, telah terbawa jauh ke alam bawah sadarku? Ditambah lagi sebelumnya, ibuku menanyakan tentang kelanjutan hubunganku dengannya. Ataukah mimpi itu sebagai isyarat akan hubungan kami?? Wallahu alam..


Beberapa bulan kemudian, Sekitar akhir tahun, dia menghubungiku, seolah-olah baru kemarin kami tidak bersua. Hati yang telah hancur dan dipenuhi tanda tanya ini, kembali luluh. Luluh karena harapanku yang membuncah tinggi terhadap dirinya, harapan akan dirinya yang bisa meminang dan menjadi imamku kelak. Alasan demi alasan dia lontarkan, dan aku berusaha bijak untuk bisa menerimanya kembali.
pada bulan ketiga setahun kemudian, aku mendapat kabar akan ditugaskan di kotanya. Perkiraan penugasan selama 1 bulan, namun rencana semula, yaitu 4 orang yang akan ditugaskan, tiba-tiba berubah rencana menjadi hanya 1 orang saja yang akan ditugaskan . Aku berdoa agar Allah mengijinkan aku yang ditugaskan disana. Dengan alasan, agar aku lebih dibukakan tentang dirinya, keluarganya dan semua yang berhubungan dengan hubungan kami. Alhamdulillah, aku berhasil dipilih.
Aku mengabarkan hal ini padanya, dia terdengar sangat antusias atas penugasanku ini. Secara kebetulan, dia ada pelatihan juga, sehingga kami bisa berada di satu kota yang sama. Sungguh Maha Besar Allah, hanya Dia lah yang mengetahui segala kebaikan dan keburukan yang tersembunyi. Sungguh semua yang aku panjatkan dalam doa-doaku slama ini, satu persatu dibukakan. Aku berusaha menjadi pribadi yang menerima sgala kekurangan nya, namun entah mengapa, semua yang ada di diriku, terlihat selalu salah dimatanya, dan mungkin mata keluarganya. Sebagai contoh, karena beban pekerjaan diluar kota itu tidaklah sama dengan beban kerja di kantor, otomatis jam kerjaku bertambah. Pulang larut malam, sabtu diharuskan lembur. Minggu kadang suka ditodong masuk juga. Lelah badan jangan dikira, namun karena aku menganggap ini sebuah mukjizat bisa dekat dengannya selama 1 bulan, setidaknya di setiap akhir pekan kami bisa bertemu, membuat lelah itu tidak terasa. Walau kadang dia harus pulang kampung menemui ibunya, jadi hanya beberapa pekan saja kami benar-benar menghabiskan waktu bersama. Aku tidak peduli, aku selalu berusaha berfikir positif, dan mensyukurinya. 
2 minggu berlalu, ibu datang berkunjung karena ini kali pertama aku jauh dari rumah, tinggal di kos-an pula. Aku sudah berpesan padanya, ibu akan datang, dan berkeinginan untuk ditemani jalan-jalan. Hatinya seperti menolak kehadiran ibu, setengah memaksa aku memohon padanya agar bisa menemani kami jalan-jalan. Tapi sungguh diluar dugaan, malam sebelum ibu datang, dia mengabarkan kalau ada acara keluarga. Dan dia tidak bisa menemani ibu. Hati kecilku hancur berkeping-keping. Aku tau dia akan mengalami kecapean yang sangat, karena harus menyupiri keluarga PP. Dan aku juga akan mengerti ketika dia berinisiatif untuk meminta maaf secara langsung ke ibu, jika dia memang memiliki rasa enggan dan hormat pada ibuku. Namun pada kenyataannya, dia tidak melakukan apa-apa. Bahkan ketika aku hubungi, nomornya tdk aktif. Satu kekecewaan besarku padanya, dan satu poin yang sangat mencoreng posisinya.
Masa penugasanku telah usai. Aku masih dalam kebimbangan. Setelah kejadian yang mengecewakan itu, aku sangat terpukul. Kembali aku panjatkan doa Pada-Nya. Agustus awal, minggu kedua Ramadhan, aku kembali ditugaskan (secara mendadak) ke sana. Kekecewaan demi kekecewaan padanya semakin bertambah dalam list ku. Dan diakhir penugasanku, aku menyelipkan kembali pertanyaan tentang hubungan kami, namu sekali lagi...kepahitan yang kurasa. Dia ungkapkan bahwa dia dijodohkan dengan seorang wanita. Namun hatinya telah tertambat padaku, namun sangat berat untuk memilih salah satu, ia menyerahkan semua pada Allah. Kalau jodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali, itu kata terakhirnya untukku. Hatiku perih... pelukan eratnya, kecupan manisnya, seperti sebuah isyarat akan ketidak mungkinan hubungan ini berlanjut. Namun aku meyakinkan diri, dan memasrahkan semua pada-Nya.
Idul fitri telah berlalu. Kumenanti kunjungannya ke rumah. Namun hari demi hari, penantian ini seakan menjadi sia-sia. Desakan pertanyaan akan hubungan kami, seolah-olah menjadi jurang pemisah. Kualami lagi kejadian setahun yang lalu. Ya Rabb.. aku tidak ingin berada dalam situasi yang sama untuk kedua kali. Berilah hamba setitik asa. Bila memang tidak ada harapan dalam hubungan ini, selamatkanlah hati ini ya Rabb. Doaku dalam setiap detik ketika teringat tentangnya.
Dengan ketidak jelasan sikapnya, aku memutuskan untuk menutup kisah ini. Lalu aku berkonsentrasi memikirkan hal lain yang membangkitkan gairahku. Aku tenggelam dalam pekerjaan dan teman-temanku.  2 Bulan kemudian, tepat diakhir bulan kesembilan dan diawal bulan ke sepuluh ia menghubungiku, sayangnya.. aku tidak mendengar panggilannya. Kukirimkan sebuah pesan singkat menanyakan perihal alasan dia menelponku. Namun tidak kunjung mendapatkan balasan. Aku tidak peduli, berusaha mengabaikan. Dan berusaha melupakan dirinya.
Di akhir tahun, tiba-tiba aku teringat padanya. Sepanjang jalan aku membatin, Ya Rabb, jika aku diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini, aku  akan mempergunakan dengan sebaik-baiknya, jika memang dalam kesempatan itu aku tidak bisa bersama dengan nya, aku akan mengikhlaskan hubungan ini. Dan bertekad untuk melupakannya, dan melanjutkan hidupku. Sungguh Allah Maha mendengar semua doa umatnya. Setiba di rumah, dia membalas sms ku yang entah kapan aku kirimkan padanya. Sebuah jwaban singkat tapi cukup melambungkanku ke langit ketujuh. Obrolan ringan pun mengalir lancar. Aku sangat penasaran dengan adanya kabar darinya. Apakah dia sudah berubah status? Karena di situs jejaring sosialnya, keponakan tercintanya menitipkan sebuah ucapan selamat padanya (tertanda bulan ke sembilan). Saat membacanya, terbelit sebuah pertanyaan besar, kabar apakah itu??? Namun aku tidak berani menanyakan langsung padanya saat itu. Karena posisi saat itu, aku sedang marah karena dia tidak bisa datang ke rumah ketika lebaran.
Singkat cerita, perbincangan kami berakhir, karena pulsa habis. Tapi nampaknya tidak ada yang begitu berubah pada dirinya. Kukirimkan pesan, sambil menyelipkan pertanyaan ttg hubungan kami. Dia menjawab, masih menunggu waktu yang tepat. Hari pun berganti, aku memberanikan diri menjabarkan semua keinginan dalam hatiku tentang hubungan ini, dan ingin memastikan lagi tentang hubungan ini. Dan aku pasrah, bila pada kenyataannya hubungan ini tidak bisa dilanjutkan. Dia terpaku, tidak menjawab pesanku. Sesaat kemudian, sebuah pesan dari no yang tidak aku kenal datang, dan mengabarkan perihal pernikahannya. Aku tercengang. Tidak percaya.. dan kehabisan kata-kata. Tanganku bergetar, dan air mata siap mengalir dari bola mataku.
Aku memberanikan diri menelpon no itu, namun sayang, no itu sudah tidak bisa dihubungi. Ku telpon no nya, tidak ada yang menjawab. Tinggal satu harapanku, ku cari no kakaknya, alhamdulillah masi aku simpan. Dengan tutur bahasa yang baik dan intonasi yang datar, aku berhasil mendapat konfirmasi berita itu. Positif, dia telah menikah. September lalu, tepat seperti ucapan polos keponakan tercintanya. Hatiku hancur,,,luluh lantah.. Air mata ini sudah tidak sanggup terbendung. Deras mengalir di pipi. Ya Rabb... mengapa bisa terjadi padaku??? Begitu rintih lirihku. Aku menangis dihadapan sahabat karibku. Segala kata-kata yang menguatkan di ucapkan demi meredam semua kekecewaan ini.


Demi Allah Rabbku, aku tidak menangisi dia, bukan karena dia tidak berhasil menjadi jodohku atau imamku, tapi sedih menyesali kebodohanku. Mengapa bisa aku larut dalam semua permainan keji dia dan keluarganya. Pernikahan bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan, serangkaian prosesi menuju pernikahan itu membutuhkan waktu, bukan dalam hitungan hari. Allah Rabbku.. mengapa y Rabb.. ketika dia mengetahui tidak ada harapan dalam hubungan ini, mengapa dia tidak mengutarakan nya secara langsung padaku, namun dia masih memberi harapan padaku, yang mungkin dia tau, semua itu palsu. Mengapa juga keluarganya tidak mengingatkan dia untuk memutuskan hubungan kami terlebih dahulu, atau mendiskusikannya denganku terlebih dahulu, sepahit apapun itu, akan jauuuuh lebih baik ketika aku mengetahuinya di awal. Bukan di akhir seperti ini, bahkan setelah berbulan-bulan pernikahan mereka, aku baru mengetahuinya.
Ya Rabb.. adakah keadilan untukku?? Apakah ini namanya bukan Zolim???? Aku menangis sejadi-jadinya. Membayangkan bagaimana perasaan orang  tua ku apabila mengetahui perihal ini, sungguh aku tidak sanggup mengabarkannnya pada mereka. Ya Rabb... Aku kecewa.. aku terpuruk mengetahui kebenaran bahwa selama ini aku tidak pernah dianggap oleh orang tuanya.
Kakaknya mengirimkan pesan padaku, terselip permintaan maaf nya padaku. Dan dikabarkannya bahwa pernikahan itu bkn atas keputusan dia, tapi keluarga yang menjodohkan. Dan baru ketahuan bahwa sang istri tidak mendukung karirnya, tidak menjadi sosok istri idaman. Ya Rabb.. apakah ini berita bahagia untukku? Ataukah ini sebuah karma kecil atas kekejaman keluarganya terhadapku slama ini? Aku tidak ingin membiarkan perasaan menari diatas penderitaan orang lain ini menjalari otakku. Namun kutetapkan dalam hatiku, cukuplah sampai disini, berita ini cukuplah mengakhiri perasaanku padanya. Mengakhiri masa penantianku padanya. Ku tenggelam dalam sujud panjangku, mengadu kesedihan yang kurasakan, mengharapkan belas kasihan Allah.


Hingga kusadari kini, Mungkin Allah telah berbaik hati padaku untuk menunjukkannya di awal. Serangkaian peristiwa di masa lalu, kembali kubuka, dan ku telaah. Mungkin Allah telah menunjukkan seperti keinginanku, namun nafsu yang menutup semuanya, sehingga aku tidak dapat melihatnya secara jelas. Dan tiba pada satu ketika, Allah mengejutkanku, dan akhirnya membuatku tersadar. Bahwa ini adalah jalan untukku. Jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untukku.Kenyataan pahit bahwa dia bukan jodohku.
Kembali terngiang di benakku, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al- Baqarah : 216).Mungkin, Allah tidak selalu mengabulkan keinginan kita, Akan tetapi Allah memastikan memberi semua kebutuhan kita. Setelah kejadian ini, aku mengikhlaskan perasaanku ini. Dan berusaha mengambil hikmah dari semua ini. Allah memiliki rencana-Nya yang Maha Dahsyat dan Maha Hebat untukku. Aku mempercayai, se sempurna-sempurnanya dia, pada kenyataannya, dia tidak sempurna untukku. Dan Sebaik-baiknya dia, dia ternyata tidak cukup baik untukku.
Aku percaya pada-Nya, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik (pula)” (QS An-Nur 24 : 3)Aku meyakini, ini peringatan untukku, agar memperbaiki akhlaqku. Sehingga aku dipertemukan dengan lelaki sholeh.
Allah memberi semua ujian ini, tentu ada maksud dan tujuan, seperti terucap dalam QS Al-Baqarah : 286. “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Artinya, aku yakin pasti bisa melalui semua ini. Semua bentuk cobaan dan ujian ini, hanyalah sebuah bukti cinta-Nya padaku. Dan aku yakin, bahwa Allah akan menggantikannya dengan berjuta keindahan pada akhirnya.  
Dan aku tidak perlu risau dan gundah, karena “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS Al-Imran : 139). Hmm.. ujian ini, hanyalah serangkaian proses untuk mempertebal keimananku, jadi kenapa terus larut dalam kesedihan ini?
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusuk. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata” (QS Al-Baqarah : 45). Moment ini adalah saat terbaik untukku bersimpuh dan lebih mendekatkan diri pada-Nya.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang umat mukmin, diri, harta mereka dengan memberi jannah untuk mereka” (QS At-Taubah : 111). Balasan yang sangat setimpal kan atas semua kesabaran dan ketaatanku pada-Nya, rasanya jauh lebih baik ketimbang kebaikan yang dijanjikan seorang manusia kepada manusia lainnya. Karena janji manusia, bisa saja ter ingkari, namun janji Allah, selalu benar.  “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. hanya kepada-Nya aku bertawakal” (QS At-Taubah : 129). “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf : 87).

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.