Kisahku : JODOHKU
Aku ingin berbagi kisah. Usiaku sudah menjelang kepala 3. Namun jodohku tidak kunjung menghampiri. Mengawali tahun yang baru, kubuat serangkaian target yang ingin kucapai. Diantaranya adalah menjadi lebih sehat, melakukan diet, memperbanyak sedekah, memanjangkan sholat malam, rajin puasa sunah, minimal puasa senin dan kamis, sehingga pada akhirnya aku diperkenankan bertemu dengan jodohku. Alhamdulillah, segala niat positifku ini (yang baru saja aku tuliskan, baru hendak akan dilaksanakan) didengar oleh Allah swt.
2 tahun yang lalu adalah pertemuanku dengannya, kira-kira di awal tahun. Lelaki yang berperawakan kecil, namun gesit, lincah dan supel ini menyatakan ketertarikannya padaku. Aku menerimanya dengan perasaan datar, meskipun hati kecil ini beriak tanda bahagia. Tidak tanggung-tanggung, diawal perkenalannya, dia membawa serta ayahnya untuk bertemu dengan orangtuaku. Kami berbincang seolah-olah kami sudah saling mengenal satu sama lain, hanya saja baru saja dipertemukan kembali. Tidak ada perasaan canggung atau malu. Diakhir perjumpaan itu, sang ayah menyelipkan sebuah kalimat yang sedikit menggetarkan hatiku, dia berkata, apabila ada kecocokan diantara kami (saya dan anaknya) maka sebagai orangtua, ia tidaklah berkeberatan.

Beberapa minggu kemudian, sesuai permintaannya, aku ditemani, ayah,ibu dan kakak datang bersilaturahmi kerumahnya, dan mempersiapkan bingkisan kecil untuk keluarganya. Pertemuan dua keluarga ini nampaknya berjalan baik. Dan menjadi awal yang baik untuk hubungan yang diawali dengan niat yang sangat serius ini. Seiring dengan berjalannya waktu, rasa sayang itu pun tumbuh. Terlebih ketika mengenal kesehariannya yang terbilang aktif baik di bidang sosial maupun bidang keagamaan. Meskipun aku merasa tidak memiliki bekal agama yang baik, namun bersamanya, aku yakin dia akan bisa membimbingku kelak. pada hari ulangtahunnya, aku memberi kejutan kecil dengan mambawa kue dan kado kecil untukknya, meskipun pada hari ulang tahunku, dia tak memberikan apa-apa untukku. Bagiku, kehadirannya terasa lebih dari cukup.
Hubungan jarak jauh ini memang sangatlah tidak mudah. Begitu banyak rintangan yang menghadang. Perasaan cemburu bercampur dengan kangen, senantiasa menggelayuti. Namun kominukasi yang intens ternyata mampu meradamnya. Akhir idul fitri tahun itu,Tidak terasa, hampir setahun usia hubungan ini. Aku berdiskusi tentang masa depan kami, tapi nampaknya aku harus menelan kekecewaan. Dia yang diawal hubungan begitu antusia ingin melamarku, kini tidak bisa memberi jawaban yang pasti. Setelah terlontar pertanyaan itu (mengenai kelanjutan hubungan kami), komunikasi kami memburuk. Dan hubungan kami diambang kehancuran. Ku curahkan semuanya pada Allah. Dalam setiap sujudku, dalam setiap simbah air mataku ini, tersebut sebuah permintaan, Allah, tunjukkan yang terbaik untukku. Bila memang dia adalah Imam ku, mudahkanlah jalan untukku, bila dia bukan jodohku, jauhkanlah dia dariku. Sebuah permohonan kecil dan bernada sedikit putus asa ini senantiasa kupanjatkan dlm sholat malamku.

Pada suatu malam aku bermimpi, ibuku menginginkan hubungan kami diresmikan, setidaknya diikat dalam sebuah tali pertunangan, sementara posisi real kami, sedang tidak baik (tidak ada komunikasi sama sekal. Beberapa kali aku sms, dia tidak membalas, di telpon tidak diangkat). Aku termangu mendengar permintaan ibu. Tapi dengan tenang nya ibu mempersiapkan semuanya, memasak bersama beberapa kerabat di rumah. Suasana riuh rendah di rumah. Sungguh diluar dugaan, dia datang bersama ibu dan beberapa kerabatnya yang aku tidak mengenali wajahnya. Kami duduk berdampingan, sesaat, hanya sesaat saja. karena beberapa detik kemudian ibunya meninggalkan ruangan, dia pun keluar menghampiri ibunya. Menit demi menit kami menunggu. Tidak lama, Dia menelponku, dan menyatakan belum siap melakukannya hari ini. Tidak lama aku terbangun. Termangu dan merasakan mimpi itu begitu nyata. Mungkinkah perasaanku ini, perasaan tidak enakku atas ibunya yang (sepertinya) tidak merestui hubungan kami, telah terbawa jauh ke alam bawah sadarku? Ditambah lagi sebelumnya, ibuku menanyakan tentang kelanjutan hubunganku dengannya. Ataukah mimpi itu sebagai isyarat akan hubungan kami?? Wallahu alam..

Beberapa bulan kemudian, Sekitar akhir tahun, dia menghubungiku, seolah-olah baru kemarin kami tidak bersua. Hati yang telah hancur dan dipenuhi tanda tanya ini, kembali luluh. Luluh karena harapanku yang membuncah tinggi terhadap dirinya, harapan akan dirinya yang bisa meminang dan menjadi imamku kelak. Alasan demi alasan dia lontarkan, dan aku berusaha bijak untuk bisa menerimanya kembali.
pada bulan ketiga setahun kemudian, aku mendapat kabar akan ditugaskan di kotanya. Perkiraan penugasan selama 1 bulan, namun rencana semula, yaitu 4 orang yang akan ditugaskan, tiba-tiba berubah rencana menjadi hanya 1 orang saja yang akan ditugaskan . Aku berdoa agar Allah mengijinkan aku yang ditugaskan disana. Dengan alasan, agar aku lebih dibukakan tentang dirinya, keluarganya dan semua yang berhubungan dengan hubungan kami. Alhamdulillah, aku berhasil dipilih.
Aku mengabarkan hal ini padanya, dia terdengar sangat antusias atas penugasanku ini. Secara kebetulan, dia ada pelatihan juga, sehingga kami bisa berada di satu kota yang sama. Sungguh Maha Besar Allah, hanya Dia lah yang mengetahui segala kebaikan dan keburukan yang tersembunyi. Sungguh semua yang aku panjatkan dalam doa-doaku slama ini, satu persatu dibukakan. Aku berusaha menjadi pribadi yang menerima sgala kekurangan nya, namun entah mengapa, semua yang ada di diriku, terlihat selalu salah dimatanya, dan mungkin mata keluarganya. Sebagai contoh, karena beban pekerjaan diluar kota itu tidaklah sama dengan beban kerja di kantor, otomatis jam kerjaku bertambah. Pulang larut malam, sabtu diharuskan lembur. Minggu kadang suka ditodong masuk juga. Lelah badan jangan dikira, namun karena aku menganggap ini sebuah mukjizat bisa dekat dengannya selama 1 bulan, setidaknya di setiap akhir pekan kami bisa bertemu, membuat lelah itu tidak terasa. Walau kadang dia harus pulang kampung menemui ibunya, jadi hanya beberapa pekan saja kami benar-benar menghabiskan waktu bersama. Aku tidak peduli, aku selalu berusaha berfikir positif, dan mensyukurinya.
2 minggu berlalu, ibu datang berkunjung karena ini kali pertama aku jauh dari rumah, tinggal di kos-an pula. Aku sudah berpesan padanya, ibu akan datang, dan berkeinginan untuk ditemani jalan-jalan. Hatinya seperti menolak kehadiran ibu, setengah memaksa aku memohon padanya agar bisa menemani kami jalan-jalan. Tapi sungguh diluar dugaan, malam sebelum ibu datang, dia mengabarkan kalau ada acara keluarga. Dan dia tidak bisa menemani ibu. Hati kecilku hancur berkeping-keping. Aku tau dia akan mengalami kecapean yang sangat, karena harus menyupiri keluarga PP. Dan aku juga akan mengerti ketika dia berinisiatif untuk meminta maaf secara langsung ke ibu, jika dia memang memiliki rasa enggan dan hormat pada ibuku. Namun pada kenyataannya, dia tidak melakukan apa-apa. Bahkan ketika aku hubungi, nomornya tdk aktif. Satu kekecewaan besarku padanya, dan satu poin yang sangat mencoreng posisinya.
Masa penugasanku telah usai. Aku masih dalam kebimbangan. Setelah kejadian yang mengecewakan itu, aku sangat terpukul. Kembali aku panjatkan doa Pada-Nya. Agustus awal, minggu kedua Ramadhan, aku kembali ditugaskan (secara mendadak) ke sana. Kekecewaan demi kekecewaan padanya semakin bertambah dalam list ku. Dan diakhir penugasanku, aku menyelipkan kembali pertanyaan tentang hubungan kami, namu sekali lagi...kepahitan yang kurasa. Dia ungkapkan bahwa dia dijodohkan dengan seorang wanita. Namun hatinya telah tertambat padaku, namun sangat berat untuk memilih salah satu, ia menyerahkan semua pada Allah. Kalau jodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali, itu kata terakhirnya untukku. Hatiku perih... pelukan eratnya, kecupan manisnya, seperti sebuah isyarat akan ketidak mungkinan hubungan ini berlanjut. Namun aku meyakinkan diri, dan memasrahkan semua pada-Nya.
Idul fitri telah berlalu. Kumenanti kunjungannya ke rumah. Namun hari demi hari, penantian ini seakan menjadi sia-sia. Desakan pertanyaan akan hubungan kami, seolah-olah menjadi jurang pemisah. Kualami lagi kejadian setahun yang lalu. Ya Rabb.. aku tidak ingin berada dalam situasi yang sama untuk kedua kali. Berilah hamba setitik asa. Bila memang tidak ada harapan dalam hubungan ini, selamatkanlah hati ini ya Rabb. Doaku dalam setiap detik ketika teringat tentangnya.
Dengan ketidak jelasan sikapnya, aku memutuskan untuk menutup kisah ini. Lalu aku berkonsentrasi memikirkan hal lain yang membangkitkan gairahku. Aku tenggelam dalam pekerjaan dan teman-temanku. 2 Bulan kemudian, tepat diakhir bulan kesembilan dan diawal bulan ke sepuluh ia menghubungiku, sayangnya.. aku tidak mendengar panggilannya. Kukirimkan sebuah pesan singkat menanyakan perihal alasan dia menelponku. Namun tidak kunjung mendapatkan balasan. Aku tidak peduli, berusaha mengabaikan. Dan berusaha melupakan dirinya.
Di akhir tahun, tiba-tiba aku teringat padanya. Sepanjang jalan aku membatin, Ya Rabb, jika aku diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini, aku akan mempergunakan dengan sebaik-baiknya, jika memang dalam kesempatan itu aku tidak bisa bersama dengan nya, aku akan mengikhlaskan hubungan ini. Dan bertekad untuk melupakannya, dan melanjutkan hidupku. Sungguh Allah Maha mendengar semua doa umatnya. Setiba di rumah, dia membalas sms ku yang entah kapan aku kirimkan padanya. Sebuah jwaban singkat tapi cukup melambungkanku ke langit ketujuh. Obrolan ringan pun mengalir lancar. Aku sangat penasaran dengan adanya kabar darinya. Apakah dia sudah berubah status? Karena di situs jejaring sosialnya, keponakan tercintanya menitipkan sebuah ucapan selamat padanya (tertanda bulan ke sembilan). Saat membacanya, terbelit sebuah pertanyaan besar, kabar apakah itu??? Namun aku tidak berani menanyakan langsung padanya saat itu. Karena posisi saat itu, aku sedang marah karena dia tidak bisa datang ke rumah ketika lebaran.
Singkat cerita, perbincangan kami berakhir, karena pulsa habis. Tapi nampaknya tidak ada yang begitu berubah pada dirinya. Kukirimkan pesan, sambil menyelipkan pertanyaan ttg hubungan kami. Dia menjawab, masih menunggu waktu yang tepat. Hari pun berganti, aku memberanikan diri menjabarkan semua keinginan dalam hatiku tentang hubungan ini, dan ingin memastikan lagi tentang hubungan ini. Dan aku pasrah, bila pada kenyataannya hubungan ini tidak bisa dilanjutkan. Dia terpaku, tidak menjawab pesanku. Sesaat kemudian, sebuah pesan dari no yang tidak aku kenal datang, dan mengabarkan perihal pernikahannya. Aku tercengang. Tidak percaya.. dan kehabisan kata-kata. Tanganku bergetar, dan air mata siap mengalir dari bola mataku.
Aku memberanikan diri menelpon no itu, namun sayang, no itu sudah tidak bisa dihubungi. Ku telpon no nya, tidak ada yang menjawab. Tinggal satu harapanku, ku cari no kakaknya, alhamdulillah masi aku simpan. Dengan tutur bahasa yang baik dan intonasi yang datar, aku berhasil mendapat konfirmasi berita itu. Positif, dia telah menikah. September lalu, tepat seperti ucapan polos keponakan tercintanya. Hatiku hancur,,,luluh lantah.. Air mata ini sudah tidak sanggup terbendung. Deras mengalir di pipi. Ya Rabb... mengapa bisa terjadi padaku??? Begitu rintih lirihku. Aku menangis dihadapan sahabat karibku. Segala kata-kata yang menguatkan di ucapkan demi meredam semua kekecewaan ini.

Demi Allah Rabbku, aku tidak menangisi dia, bukan karena dia tidak berhasil menjadi jodohku atau imamku, tapi sedih menyesali kebodohanku. Mengapa bisa aku larut dalam semua permainan keji dia dan keluarganya. Pernikahan bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan, serangkaian prosesi menuju pernikahan itu membutuhkan waktu, bukan dalam hitungan hari. Allah Rabbku.. mengapa y Rabb.. ketika dia mengetahui tidak ada harapan dalam hubungan ini, mengapa dia tidak mengutarakan nya secara langsung padaku, namun dia masih memberi harapan padaku, yang mungkin dia tau, semua itu palsu. Mengapa juga keluarganya tidak mengingatkan dia untuk memutuskan hubungan kami terlebih dahulu, atau mendiskusikannya denganku terlebih dahulu, sepahit apapun itu, akan jauuuuh lebih baik ketika aku mengetahuinya di awal. Bukan di akhir seperti ini, bahkan setelah berbulan-bulan pernikahan mereka, aku baru mengetahuinya.
Ya Rabb.. adakah keadilan untukku?? Apakah ini namanya bukan Zolim???? Aku menangis sejadi-jadinya. Membayangkan bagaimana perasaan orang tua ku apabila mengetahui perihal ini, sungguh aku tidak sanggup mengabarkannnya pada mereka. Ya Rabb... Aku kecewa.. aku terpuruk mengetahui kebenaran bahwa selama ini aku tidak pernah dianggap oleh orang tuanya.
Kakaknya mengirimkan pesan padaku, terselip permintaan maaf nya padaku. Dan dikabarkannya bahwa pernikahan itu bkn atas keputusan dia, tapi keluarga yang menjodohkan. Dan baru ketahuan bahwa sang istri tidak mendukung karirnya, tidak menjadi sosok istri idaman. Ya Rabb.. apakah ini berita bahagia untukku? Ataukah ini sebuah karma kecil atas kekejaman keluarganya terhadapku slama ini? Aku tidak ingin membiarkan perasaan menari diatas penderitaan orang lain ini menjalari otakku. Namun kutetapkan dalam hatiku, cukuplah sampai disini, berita ini cukuplah mengakhiri perasaanku padanya. Mengakhiri masa penantianku padanya. Ku tenggelam dalam sujud panjangku, mengadu kesedihan yang kurasakan, mengharapkan belas kasihan Allah.

Hingga kusadari kini, Mungkin Allah telah berbaik hati padaku untuk menunjukkannya di awal. Serangkaian peristiwa di masa lalu, kembali kubuka, dan ku telaah. Mungkin Allah telah menunjukkan seperti keinginanku, namun nafsu yang menutup semuanya, sehingga aku tidak dapat melihatnya secara jelas. Dan tiba pada satu ketika, Allah mengejutkanku, dan akhirnya membuatku tersadar. Bahwa ini adalah jalan untukku. Jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untukku.Kenyataan pahit bahwa dia bukan jodohku.
Kembali terngiang di benakku, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al- Baqarah : 216).Mungkin, Allah tidak selalu mengabulkan keinginan kita, Akan tetapi Allah memastikan memberi semua kebutuhan kita. Setelah kejadian ini, aku mengikhlaskan perasaanku ini. Dan berusaha mengambil hikmah dari semua ini. Allah memiliki rencana-Nya yang Maha Dahsyat dan Maha Hebat untukku. Aku mempercayai, se sempurna-sempurnanya dia, pada kenyataannya, dia tidak sempurna untukku. Dan Sebaik-baiknya dia, dia ternyata tidak cukup baik untukku.
Aku percaya pada-Nya, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik (pula)” (QS An-Nur 24 : 3)Aku meyakini, ini peringatan untukku, agar memperbaiki akhlaqku. Sehingga aku dipertemukan dengan lelaki sholeh.
Allah memberi semua ujian ini, tentu ada maksud dan tujuan, seperti terucap dalam QS Al-Baqarah : 286. “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Artinya, aku yakin pasti bisa melalui semua ini. Semua bentuk cobaan dan ujian ini, hanyalah sebuah bukti cinta-Nya padaku. Dan aku yakin, bahwa Allah akan menggantikannya dengan berjuta keindahan pada akhirnya.
Dan aku tidak perlu risau dan gundah, karena “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS Al-Imran : 139). Hmm.. ujian ini, hanyalah serangkaian proses untuk mempertebal keimananku, jadi kenapa terus larut dalam kesedihan ini?
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusuk. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata” (QS Al-Baqarah : 45). Moment ini adalah saat terbaik untukku bersimpuh dan lebih mendekatkan diri pada-Nya.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang umat mukmin, diri, harta mereka dengan memberi jannah untuk mereka” (QS At-Taubah : 111). Balasan yang sangat setimpal kan atas semua kesabaran dan ketaatanku pada-Nya, rasanya jauh lebih baik ketimbang kebaikan yang dijanjikan seorang manusia kepada manusia lainnya. Karena janji manusia, bisa saja ter ingkari, namun janji Allah, selalu benar. “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. hanya kepada-Nya aku bertawakal” (QS At-Taubah : 129). “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf : 87).
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.